Selasa, September 23, 2008

Tangis Tanpa Air Mata

UNSUR-UNSUR PEMBANGUN RESENSI

a. Tema
Penyelesaian karena tidak bisa memahami seseorang hingga orang itu meninggal.

b. Tokoh dan Penokohan
Tokoh terdiri dari :
1. Pelaku Utama 1 : Arien
2. Pelaku Utama 2 : Lola
3. Pelaku Sampingan 1 : Mama
4. Pelaku Sampingan 2 : Papa
Penokohan :
1. Tokoh Protagonis :
2. Tokoh Antagonis :

c. Cerita
cerita dalam cerpen bercerita tentang peristiwa kejiwaan

d. Alur
Berdasarkan peristiwa alurnya yaitu :
Alur maju karena serangkaian peristiwa yang berurutan dari awal - akhir.

e. Bahasa
Penulis menggunakan gaya bahasa yang bersifat prosais yaitu tidak memperhatikan unsur puitis.

TANGIS TANPA AIR MATA

Judul Buku : Tangis Tanpa Air Mata
Penulis : Let Lativa
Terbit Tahun : 2007

Perilaku seseorang tidak dapat dinilai dalam waktu beberapa hari, namun membutuhkan sebuah proses yang panjang dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memahami perilaku seseorang. Begitupun dalam membenci. Benci tidak boleh terlalu, sebab benci hanya akan membuat seseorang menjadi uring-uringan. Begitu pula orang yang ada di sekitar akan merasa terusik dan tidak nyaman. dan, karena rasa benci membuat diri seseorang akan menyesal, jika orang yang dia benci dan dia anggap rendah meninggalkannya untuk selamanya.
Membenci memang sifat yang wajar dan biasa terjadi pada saetiap manusia yang hidup, tetapi sungguh jelas dan tidak dapat dipungkiri bahwa dalam diri seseorang masih terdapat jiwa penolong dan pemaaf, jika menyadarinya. Dan penulis cerpen ini pun mampu membuat sebuah ringkasan cerita yang amat besar sekali maknanya.
Tidak disangka cerpen ini mampu menggugah hati bagi pembacanya. cerpen ini pun membuat banyak sekali pesan moral yang ada dalam kehidupan sehari-hari dan menuju ke alur sosialisasi yang meluas, menyentuh, menyedihkan, naluri kekerabatannya tak dapat dilihat, namun dapat dirasakan. Dapat menggerakan hati dan menggugah perasaan seseorang.
Cerpen ini hanya mengutamakan watak-watak tokoh pelaku utama dan hanya menitik beratkan pada satu hal saja. Sehingga, tokoh, watak, dan alur cerita tidak bisa berkembang dengan semestinya. Penulis sepertinya hanya mengutamakan tuntutan dari media saja tanpa memikirkan unsur penyusun cerpen tersebut. Sehingga, jalan ceritanya tidak bisa dicerna hanya dengan membaca sekilas. namun, inilah cara ekspresi yang dapat memotiasi kita untuk bisa membuat Karya Tulis yang lebih relevan dibanding karangan cerita sekarang yang sepertinya hanya bermodal imajinasi.
Namun, tidak hanya dalam hal bahasa yang digunakan cerpen ini. Melainkan kandungan isi dari cerpen ini adalah suatu ulasan makna yang disampaikan melalui wayang diperankan oleh seorang pelaku dalam cerita.
Cerpen ini mengutamakan penokohan dan karakter para pelaku alami, tokoh tetap membawakannya dengan kesan tersendiri bagi karakter dalam cerpen ini. Arien, Lola, Mama, dan Papa yang membuat cerpen ini ingin menghidupkan watak dari pelaku utamanya agar tampak lebih nyata. Sehingga, tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan tokoh dalam cerita sangat dibutuhkan. Bahkan harus ada.
Dalam cerpen ini para tokoh, terutama tokoh utama mampu memerankan sosok gadis remaja pada zaman sekarang yang hanya menilai seseorang dari penampilan saja. Memang cerita ini mengisahkan tentang jalan hidup seorang anak remaja yang masih belum bisa mengerti dan memahami hati seorang. Mungkin ini bisa dijadikan sebuah pembelajaran yang konkret dan lebih jelas untuk di pahami.
Cerita dalam cerpen ini dapat disebut sebagai cerita yang berisikan nasehat, bisa juga penerang bagi remaja dalam menjalani kehidupan. Sebab, cerpen ini berisikan mengenai penilaian dan menghargai itu semua sesungguhnya mengerjakan akan sisi dari kehidupan sehari-hari kita agar lebih menerima dan memahami karakteristik dari setiap orang. Sebab sebagai seorang manusia, kita masih mempunyai banyak kekurangan.